Logo DIY jogja istimewa
BADAN KETAHANAN PANGAN DAN PENYULUHAN
DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA
Upsus Swasembada Pangan Jadi Indikator Kinerja Penyuluh
Upaya Khusus (Upsus)
Oleh : Admin | 20-03-2015 |

Keberhasilan pelaksanaan Upaya Khusus (UPSUS) swasembada pangan dijadikan indikator kinerja kelembagaan penyuluhan pertanian dan penyuluh pertanian lapangan termasuk penyuluh kontrak.

Hal itu dikatakan Menteri Pertanian, Dr. Ir. Amran Sulaiman  saat menghadiri Pertemuan Koordinasi Penyuluhan Pertanian dalam rangka mendukung pencapaian swasembada padi, jagung dan kedelai yang dilaksanakan oleh Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian di Pusat Pelatihan Manajemen dan Kepemimpinan Pertanian (PPMKP), Ciawi, Jawa Barat (16/2).

Mentan dalam sambutannya meminta agar laporan mingguan UPSUS menjadi indikator kinerja kelembagaan penyuluhan dan kontrak kinerja penyuluh pertanian lapangan.

Dalam pertemuan yang disatukan sekaligus dengan Rapat Kerja Nasional (RAKERNAS) Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian ini  Mentan menegaskan bahwa Bapak Presiden telah menetapkan dalam waktu 2015-2017 Indonesia harus swasembada pangan terutama beras melalui Upaya Khusus (UPSUS) percepatan pencapaian swasembada padi, jagung dan kedelai. “Indikatornya tidak ada impor beras/substitusi impor dan mendorong ekspor beras sehingga neraca perdagangan beras kita surplus. Presiden juga telah merencanakan 1.000 desa berdaulat benih untuk melayani kebutuhan petani setempat dan desa sekitarnya”, ujar Mentan.

Untuk mewujudkan target tersebut, Kementerian Pertanian secara serius, sistematis, dan terfokus melakukan identifikasi kunci permasalahan. Beberapa point masalah mendasar pembangunan pertanian yang ditemukan berdasarkan data dan hasil kunjungan ke 22 provinsi dan 67 kabupaten meliputi benih, pupuk, tenaga kerja termasuk penyuluh pertanian, infrastruktur pengairan,  harga, dan koordinasi dengan instansi terkait. Keenam masalah mendasar ini berkontribusi terhadap kehilangan peluang produksi padi sekitar 20 juta ton GKG per tahun.

Sebagai salah satu unit eselon I yang ikut bertanggungjawab dalam keberhasilan pencapaian swasembada padi, jagung dan kedelai, BPPSDMP mempunyai tugas dan peran serta cukup besar untuk menanggulangi hambatan dan permasalahan yang dihadapi di lapangan, terutama pada masalah kurangnya tenaga penyuluh pertanian di lapangan.

BPPSDMP memiliki kebijakan ke depan yang salah satunya adalah dengan melakukan Pemantapan Sistem Penyelenggaraan Penyuluhan dan Pemantapan Sistem Pelatihan yang dilaksanakan melalui beberapa hal, yaitu (1) fasilitasi penguatan 5.232 unit kelembagaan penyuluhan kecamatan (BP3K) sebagai institusi pertanian terdepan dalam pelayanan kepada petani, dan Pos Simpul Koordinasi (POSKO) program dan pelaksanaan kegiatan UPSUS; (2) Melakukan kerjasama dengan Perguruan Tinggi dan TNI dalam pengawalan dan pendampingan terpadu; (3) Penguatan data base BP3K untuk mendukung UPSUS Percepatan Peningkatan Swasembada Padi, Jagung dan Kedelai; dan (4) Pemenuhan kebutuhan jumlah tenaga penyuluh pertanian yang dilakukan dengan pengusulan tambahan formasi penyuluh melalui jalur PNS dan penyediaan formasi pengangkatan THL-TBPP sebanyak 10.000 orang, sebagai Pegawai ASN melalui jalur PPPK. Selain itu mendorong Penyediaan Tenaga Bantu Penyuluh oleh Provinsi dan Kabupaten/Kota serta Penyediaan Tenaga Penyuluh Pertanian Swadaya (PPS); (5) Meningkatkan kinerja Balai Diklat dalam peningkatan kemampuan dan kapasitas penyuluh pertanian melalui pelatihan bagi penyuluh PNS, penyuluh swadaya dan THL-TBPP.

Dalam akhir arahannya, Mentan memberikan instruksi langsung kepada seluruh kepala sekretariat Bakorluh dan instansi terkait, antara lain (1) Bakorluh menggerakan seluruh penyuluh pertanian di lapangan untuk mendukung percepatan pencapaian swasembada padi, jagung dan kedelai tahun 2015-2017; (2) Kunci keberhasilan UPSUS terletak pada kinerja para penyuluh dan Babinsa dalam menjabarkan dan memproyeksikan target produksi dan produktivitas padi, jagung dan kedelai sampai ke tingkat desa dalam bentuk data luas sawah, luas tanam, luas panen, IP, produksi dan produktivitas. Selain itu keberhasilan UPSUS ditentukan pula oleh penyediaan teknologi oleh jajaran Badan Litbang Pertanian, desiminasi teknologi dan implementasinya di lapangan; (3) Dalam rangka mendukung UPSUS padi, jagung dan kedelai terdapat tiga kegiatan penyuluhan yang harus segera dirancang berkenaan dengan APBNP 2015, yaitu tambahan peningkatan kapasitas 1.100 unit BP3K (paket lengkap) sehingga mencapai total 2.600 unit, pengawalan dan pendampingan penyuluh di sentra produksi padi, jagung dan kedelai di 24.000 WKPP pada lokasi BP3K yang difasilitasi; dan pemberdayaan 10.000 orang penyuluh swadaya. Selain itu Mentan juga meminta agar laporan mingguan UPSUS menjadi indikator kinerja kelembagaan penyuluhan dan kontrak kinerja penyuluh dalam melaksanakan UPSUS segera dilaksanakan.

“Pencapaian swasembada berkelanjutan padi dan jagung serta swasembada kedelai melalui UPSUS ini harus dilaksanakan secara bersungguh-sungguh dengan membangun komitmen dan koordinasi yang kuat di setiap lini. Saya harap melalui berbagai upaya tersebut di atas kita tidak perlu menunggu sampai tiga tahun untuk berswasembada pangan”, tegas Mentan. (Chaca)

 

Sumber : http://tabloidsinartani.com

Lainnya :
*
BP3K SEBAGAI POSKO, MENDUKUNG UPSUS PAJALE DI DIY
Upaya Khusus (Upsus)
Oleh : Andi Bagus | 03-11-2015 |
*
Pedoman Pengawalan dan Pendampingan Terpadu UPSUS Swasembada PAJALE
Upaya Khusus (Upsus)
Oleh : Andi Bagus | 22-05-2015 |
*
Pedoman Teknis Pendampingan Penyuluhan UPSUS pada Program Optimasi Lahan
Upaya Khusus (Upsus)
Oleh : Admin | 19-04-2015 |
*
Upaya Khusus (Upsus) Swasembada Pangan 2015-2017
Upaya Khusus (Upsus)
Oleh : Admin | 19-02-2015 |

Beranda Upaya Khusus (Upsus)