Logo DIY jogja istimewa
BADAN KETAHANAN PANGAN DAN PENYULUHAN
DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA
Juara APN 2017
Profil Juara Adhikarya Pangan Nusantara (APN)
Oleh : Admin | 12-10-2017 |

 

 

 

Adhikarya Pangan Nusantara (APN) merupakan suatu penghargaan yang diberikan oleh aparat ataupun masyarakat yang memiliki prestasi dalam lingkup ketahanan pangan secara luas. Tujuan pemberian APN 2017 yaitu menumbuhkan dan mendorong semangat, kreativitas, serta partisipasi masyarakat; dan memberikan motivasi kepada aparatur pemerintah dalam mewujudkan kedaulatan pangan, kemandirian pangan dan ketahanan pangan.

Aspek Penilaian APN tahun 2017 mencakup 9 kategori. Berdasarkan penilaian dari Tim Penilai APN DIY Tahun 2017, setelah dilakukan penilaian terhadap profil yang bersangkutan, dan dilakukan kunjungan lapangan sehingga telah diperoleh nama-nama atau kelompok pemenang APN 2017 dengan 9 kategori yaitu :

1. Pelopor Ketahanan Pangan, yaitu perseorangan bukan tokoh organisasi formal yang merintis inovasi dalam pemanfaatan SDA, SDM, teknologi, finansial dan sumber daya sosial seta upaya memperbaiki lingkungan di daerahnya untuk mewujudkan kedaulatan, kemandirian atau ketahanan pangan.

Kategori Pelopor :

Juara I

Suciati, RPA Saliman, Kab. Sleman

Juara II

Triati, S.S., Kab. Bantul

Juara III

Marwiyah, Kab. Kulonprogo

 

Hj. Suciati Saliman lahir di Sleman tanggal 20 Mei 1952 sebagai pengelola Rumah Potong Ayam (RPA) Saliman Riyanto. Dimulai dari 2 ekor ayam hingga tahun 1988 bekerjasama dengan perusahaan waralaba PT Fastfood Indonesia yang dikenal KFC hingga sekarang ini telah dapat memelopori dan mengembangkan usahanya dalam beternak ayam dengan cara higienis dan ditiru oleh masyarakat sekitar dengan baik. Hasil panen ayam potong maupun ayam kampung oleh masyarakat disetorkan kepada RPA Saliman, dan masyarakat peternak ini menjadi mitra dalam penyediaan/stock ayam hidup. Tahun 2001 nama RPA Saliman Riyanto diresmikan. Semakin tinggi kebutuhan daging ayam, Suciati membuka pabrik pemotongan ayam di Jombang, dan Balikpapan. Beliau melopori dalam beternak ayam secara higienis sehingga  masyarakat disekitar banyak yang ikut bermitra dibidang peternakan ayam. 

2.  Pemangku Ketahanan Pangan, yaitu perseorangan yang menjadi tokoh masyarakat setempat/adat dalam hal ini bukan PNS/pejabat pemerintah atau bukan isteri/suami pejabat pemerintah, yang mempunyai pengaruh besar, kharisma, dan berhasil menggerakkan masyarakat untuk melestarikan dan memperbaiki adat dan budaya lokal (local wisdom) dalam melaksanakan pemberdayaan, penguatan ekonomi dan pengelolaan lingkungan guna mewujudkan kedaulatan, kemandirian dan ketahanan pangan.

Kategori Pemangku :

Juara I

Sudihartono, Kampung Flory, Kab. Sleman

Juara II

Teguh Kumoro, Kab. Kulonprogo

Juara III

Mursiyo, Kab. Gunungkidul

 

Sudihartono lahir tanggal 29 November 1980, pada tahun 2002 beliau merupakan salah satu generasi muda tani yang memulai merintis usaha dengan menjual bibit tanaman buah dari satu pasar ke pasar lainya, dari tempat pameran satu ke tempat pameran lainnya. Tahun 2004 dengan modal 1 juta rupiah dan meminjam lahan seluas 1.000 m2 milik orang tuanya, ia membeli 10 indukan pohon kelengkeng kualitas super.  Tahun 2008-2012 menjadi Ketua APTHS (Asosiasi Petani Tanaman Hias Sleman), 2010 ditunjuk sebagai ketua Tim Penghijauan Lereng Merapi dan 2014-sekarang sebagai pembina dari Kelompok Tani Taruna Tani Flory bersama-sama membentuk Kampung Flory. Dalam kategori ini, beliau berhasil menggerakkan pemuda-pemuda disekitar dalam hal ini karang taruna untuk membangun wajah desa baru melalui kampung flory di bidang pertanian, pariwisata, pendidikan dan perbaikan lingkungan serta ekonomi di dusun Jugang Pangukan, Tridadi, Sleman sehingga menjadi ikon wisata agro di DIY. Dengan keuletan Sudihartono berdampak positif sehingga banyak pemuda yang tertarik ikut dalam pembibitan tanaman hias dengan memanfaatkan pekarangan, ibu-ibu terlibat aktif dalam usaha kuliner yang bergabung dalam kuliner Bali ndeso dan Iwak Kalen dan masyarakat disekitar menjadi supplier untuk kebutuhan kuliner, tanaman, maupun sarana prasarana wisata edukastif pertanian.

3. Pelaku Pembangunan Ketahanan Pangan, yaitu kelompok/gabungan kelompok masyarakat/kelembagaan ekonomi pelaku usaha pangan skala kecil dan menengah yang berhasil mengelola kegiatan produksi pangan, pemberdayaan masyarakat atau pengembangan industri pangan olahan/perakitan teknologi pangan dalam mewujudkan kedaulatan kemandirian dan ketahanan pangan.

  Kategori Pelaku Produksi

Juara I

Gapoktan Sumber Harapan, Kab. Bantul

Juara II

Hartono, Kab. Sleman

Juara III

Kelompok Hortikultura, Kab. Gunungkidul

 

Gapoktan Sumber Harapan, di Desa Sumbermulyo, Kecamatan Bambanglipuro, Kabupaten Bantul merupakan Gapoktan yang cukup maju dan berkembang dengan anggota 17 Kelompok Tani, 8 Kelompok Wanita Tani, 4 Kelompok Ternak Kambing/domba, 19 Kelompok Ternak Sapi, 2 Kelompok Ternak Itik, 5 Kelompok Ternak Ayam Buras, 3 Kelompok Budidaya Ikan, 8 Kelompok Lumbung Pangan. Dalam peningkatan produktivitas tanaman pangan, untuk padi selama 2 tahun (2014 ke 2016) meningkat 1,7 %dari 86,5 Kw/Ha menjadi 88,0 Kw/Ha,sedang untuk jagung meningkat 1,4 % dari 134,8 Kw/Ha menjadi 136,6 Kw/Ha. Gapoktan sumber harapan yang semula bernama Paguyuban Kelompok Tani Sumber Harapan, selanjutnya sebagai payung hukum maka dilakukan pengukuhan berdasarkan SK Bupati No 142 Tahun 2008 pada tanggal 19 Mei 2008 tentang penetapan Gabungan Kelompok Tani Sumber Harapan. Gapoktan ini didampingi oleh BP3K Bambanglipuro, yang diketuai oleh Sunaryo. Keseluruhan kegiatan telah di administrasi dengan baik, baik di tingkat Gapoktan maupun di tingkat Kelompok Tani. Perkembangan yang cukup bagus saat ini antara lain Gapoktan Sumber Harapan telah berbadan hukum dan memiliki Gedung Pertemuan Seba Guna yang cukup megah.

Kategori Pelaku Pemberdayaan

Juara I

KWT Mekar Gading V, Kab. Gunungkidul

Juara II

KWT Srikandi, Kab. Bantul

Juara III

Gapoktan Hastorejo, Kab. Sleman

 

Kelompok Wanita Tani (KWT) Mekar, Gading 5, Gading, Playen, Gunungkidul berdiri pada tanggal 5 Mei 2014, saat ini telah memiliki Akte Notaris dan dikukuhkan namanya Kelompok Wanita Tani “Mekar Gading Playen”. Kelompok ini cukup aktif dalam memberdayakan anggota kelompok dan masyarakat di lingkungannya dalam bidang pertanian, khususnya pemanfaatan pekarangan. Bahkan masyarakat di luar Dusun Gading V telah mereplikasikan kegiatan pemanfaatan pekarangan dengan menggunakan air sumur bor dan hasilnya dapat dirasakan untuk peningkatan perekonomian keluarga dan untuk memperbaiki gizi masyarakat, karena sayuran harian menjadi sehat sebab dapat dipetik dari pekarangan sendiri yang menanamnya tidak dipupuk dengan pupuk kimia dan mengurangi pengeluaran dana keluarga sebab tidak perlu beli sayur.

Kategori Pelaku Industri/Perakitan Teknologi Pangan Olahan

Juara I

Griya Coklat, Kab. Gunungkidul

Juara II

Siti Rupingah, Kab. Kulonprogo

Juara III

KWT Margomulyo, Kab. Sleman

 

Griya Coklat, merupakan kelompok produsen industri coklat berbasis masyarakat, dan berada di bawah organisasi Gabungan Kelompok Tani (GAPOKTAN) “Umbul Makaryo” Desa Nglanggeran, Patuk, Gunungkidul. Griya Coklat membuktikan bahwa coklat/cacao tidak hanya dapat diolah dan diproduksi oleh pabrik besar. Selain menjadi produsen, Griya Coklat juga merupakan kelompok pengelola kebun coklat dan pusat penjualan coklat olahan. Griya Coklat merupakan kelompok yang cukup cerdas dalam memanfaatkan sumber daya alam, potensi lokal berupa Gunung Api Purba dan Perkebunan Coklat, dan sumber daya manusia untuk melakukan diversifikasi olahan coklat, jadi cocok kalau kemudian dikenal sebagai Kawasan Wisata Agro-Situs Gunung Api Purba.

4.     Pelayanan Ketahanan Pangan, yaitu Perseorangan PNS/Non PNS, berprestasi dan aktif memberikan pengabdian/pelayanan kepada masyarakat dalam mewujudkan Kemandirian Pangan dan Ketahanan Pangan di wilayahnya yang melampaui tugas pokoknya dan/atau prestasi luar biasa. Lingkup pengabdian/pelayanan mencakup antara lain penyuluhan, penelitian/pengembangan, pengawasan/ pengendalian di bidang pangan, kesehatan hewan dan ikan, serta bentuk pelayanan fungsional lainnya dalam rangka pembangunan Ketahanan Pangan.

  Kategori Pelayanan Penyuluh

Juara I

Ismail, S.TP., BP3K, Ksihan, Kab. Bantul

Juara II

Maryadi,  A.Md, Kab. Sleman

Juara III

Suhatman, Kab. Kulonprogo

 

Ismail, S.TP., lahir di Sleman tanggal 16 Agustus 1960 yang berdomisili di Potorono, Bantul.  Beliau Sebagai penyuluh di BP3K Kecamatan Kasihan, Kabupaten Bantul telah melakukan tugasnya seperti menyusun data potensi wilayah, menyusun rencana kerja jangka pendek dan menengah, juga membimbing pembuatan rencana usaha atau kegiatan kelompok binaan. Selain kegiatan rutin yang bersangkutan telah melakukan tugas dengan melebihi jam kerja yang ditentukan pemerintah untuk dapat mengampu seluruh kelompok tani yang ada di wilayah Desa Baturetno (8 dusun, 7 Kelompok Tani) dan Desa Potorono (9 dusun, 9 Kelompok Tani) serta kelompok pembudidaya ikan dan ternak baik sapi, kambing maupun ayam. Yang cukup menarik, dalam setiap kegiatannya dibuktikan dengan pengadministrasian yang rapi.

 

Kategori Pelayanan Peneliti

Juara I

Prof. Ali Agus, DAA, DEA., Fakultas Peternakan UGM, Kab Sleman

Juara II

Ir.Muhammad Kurniadi, MTA., Peneliti Teknologi Pangan, Kab. Gunungkidul

 

Prof. Ali Agus, DAA, DEA., lahir di Blora tanggal 22 Agustus 1966 yang berdomisili di Kecamatan Ngaglik, Kabupaten Sleman. Jabatan sebagai Guru Besar Fakultas Peternakan UGM, dengan riwayat pendidikan yaitu S1 Fak. Peternakan UGM (1984-1989); S2 ENSA, Rennes, France (1989-1993); S3 ENSA, Rennes, France (1993-1996); dan pengambilan Profesi di ENSA, Rennes, France (1992-1993). Pengalaman kerja mulai 1998 sebagai konsultan pakan ternak hingga sekarang, beliau berhasil menyelesaikan riset yang ditangani selama 5 tahun terakhir mulai tahun 2010-2016 dengan jumlah 18 riset sedangkan karya ilmiah berupa buku yang sudah terpublikasi dari tahun 2007-2013 berjumlah 13, jurnal dengan first author 5 tahun terakhir (2010-2016) berjumlah 9, jurnal second author 3 tahun terakhir(2013-2016) berjumlah 12, dan makalah (2010-2013) berjumlah 11. Pengabdian pada masyarakat dimulai pada tahun 2002 hingga sekarang, salah satu program pengabdian yang berjalan hingga sekarang yaitu pengembangan kelembagaan desa serta pelibatan dan pemberdayaan masyarakat melalui program desa perkasa. Sebagaipeneliti beliau memenangkan berbagai penghargaan antara lain penghargaan Satyalancana Karya Satya X (tahun 2003 dan Satyalancana Karya Satya XX tahun 2016 yang diberikan oleh Presiden RI, penghargaan peneliti berprestasi tingkat nasional dalam inovasi pangan dan pertanian tahun 2015 diberikan oleh Menteri Pertanian RI, penghargaan peneliti bidang pangan dan gizi pada simposium pangan nasional tahun 2015 dan the best CSR Awards di India tahun 2014. Prof. Dr. Ir. Ali Agus, DAA., DEA. adalah Dekan Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada Yogyakarta yang dísela-sela waktu ngajarnya telah digunakan untuk melakukan penelitian tentang “Makanan Fungsional”, salah satunya tentang bagaimana telur ayam yang dapat digunakan untuk mencegah dan mengobati berkurangnya pelumas pada persendian. Berdasarkan hasil penilaian tim APN 2017, beliau berhak mendapatkan penghargaan APN 2017 karena berhasil memadukan dari hulu ke hilir dengan mengaitkan beberapa sektor seperti peternakan, pangan, gizi.

Kategori Pelayanan Pengawas

Juara I

Maryudianto, S.Pt., Pengawas Mutu Hasil Pertanian, Kab. Sleman

Juara II

Pradipta Ardi M., Inseminator UPT Puskeswan, Kab. Gunungkidul

 

Maryudianto, S.Pt., lahir di Sleman tanggal 12 Agustus 1965 menjabat sebagai pengawas mutu hasil pertanian muda di Dinas Pertanian Perikanan dan Kehutanan Kab. Sleman. Beliau menjabat sebagai PMHP mulai 31 Desember 2007. Beliau aktif dalam pengawasan terhadap pelaku usaha di pasar tradisional, pelaku budidaya, pengolah dan penjual produk mengenai mutunya yang di bandingkan dengan SNI. Pendampingan dan pengawasan langsung dilakukan ke peaku usaha peternakan seperti pendampingan higiene sanitasi di tempat pemotongan hewan, tempat pengolahan pangan asal hewan (PAH), tempat produksi, tempat penggilingan, unit usaha cold storage, pendampingan NKV kepada pelaku usaha.

5.    Pembina Ketahanan Pangan, yaitu kepala daerah tingkat kabupaten/kota/desa yang berhasil menggerakkan perangkat daerah dan masyarakat dalam menguarangi kemiskinan/kerwanan pangan/gizi buruk, meningkatkan produksi pangan sesuai potensi daerah dan mempercepat diversifikasi pangan dalam mewujudkan kedaulatan, kemandirian, ketahanan pangan.

Kategori Pembina

Juara I

Susilo Nugroho, S.IP

Juara II

Slamet Riyanto

Juara III

Widayat

 

Susilo Nugroho, S.IP., lahir di Sleman yang berdomisili di Tegal tirto. Beliau menjadi Kepala Desa Tegaltirto pada tahun 2007 hingga sekarang.  sebagai Kepala Desa Tegaltirto, dalam membangun desanya dengan mengingat potensi alam dan sumber daya manusia, telah menetapkan 4 pilar pembangunan, yaitu (1) pembangunan pertanian, (2) pembangunan perikanan, (3) pembangunan peternakan dan (4) pengembangan UMKM melalui kelompok-kelompo tani dan gabungan kelompok tani “Tegal Mulyo”. Desa Tegaltirto merupakan wilayah yang diarahkan sebagai kawasan Agribisnis berbasis pada pertanian, perikanan dan peternakan. Selain itu dalam program pengurangan KK Miskin, Pemerintah Desa Tegaltirto telah dapat mengurangi jumlahnya dari tahun 2014 hampir mencapai 400 KK, tahun 2016 berada di seputaran 300 KK, dan data ini selalu di update seiap tahun melalui Tim Pengurangan Kemiskinan (TPK) Desa.

 

 

Lainnya :
Tidak ditemukan hasil.

Beranda Profil Juara Adhikarya Pangan Nusantara (APN)