Logo DIY jogja istimewa
BADAN KETAHANAN PANGAN DAN PENYULUHAN
DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA
Produksi pangan Makin Terancam
Berita Eksternal
Oleh : Admin | 12-02-2014 |

Ilustrasi sawah kebanjiran

INDRAMAYU, KOMPAS.com — Produksi pangan terancam terganggu akibat banjir yang merendam areal pertanian di pantai utara Jawa selama hampir tiga pekan. Ancaman ini makin besar karena hingga pekan lalu di beberapa tempat masih digenangi air. Dibutuhkan waktu hingga berbulan-bulan bagi petani untuk membenahi sawah yang rusak.

Berdasarkan pantauan Kompas sejak awal pekan lalu hingga Minggu (9/2/2014), di sepanjang pantai utara Jawa Barat dan Jawa Tengah, banjir yang membenamkan ribuan hektar areal persawahan, kolam air tawar, dan tambak udang menyisakan kerusakan parah.

Sentra pertanian di Kabupaten Karawang, Kabupaten Subang, dan Kabupaten Indramayu di Jabar yang terbenam air mengalami gagal panen dan tanaman membusuk. Di beberapa tempat di wilayah ini masih ditemukan sawah yang terendam.

Joharipin (39), petani Desa Jengkok, Kecamatan Kertasemaya, Kabupaten Indramayu, mengatakan, sawahnya terendam air. Ia berniat untuk menanam ulang di lahan yang kebanjiran, tetapi tidak dalam waktu dekat.

”Saya melihat perkembangan cuaca dulu. Kalau hujan masih deras dan saluran pembuangan air dari sawah banyak yang mampat, mungkin lahan saya sebaiknya tidak ditanami dulu. Saya khawatir sawah akan terendam lagi,” ujarnya.

Kepala Seksi Rehabilitasi Pengembangan Lahan dan Perlindungan Tanaman Pangan Dinas Pertanian Kabupaten Indramayu Dadang Kusmayadi mengatakan, berdasarkan perhitungan sementara, 6.270 hektar lahan dipastikan puso karena terendam banjir.

”Jika sawah terendam lebih dari 12 hari, sudah dipastikan petani harus tanam ulang. Karena itu, pendataan masih terus dilakukan. Namun, 6.270 hektar lahan yang kami data menunjukkan gejala rusak berat sehingga kalaupun bisa tumbuh, padi itu akan puso,” kata Dadang.

Banjir di Jateng, antara lain, menerjang Kabupaten Pemalang, Kabupaten Batang, Kabupaten Kudus, Kabupaten Demak, dan Kabupaten Pati. Sebagian tanaman padi yang hancur itu seharusnya siap dipanen pada Februari atau Maret.

Para petani di Kabupaten Kudus, Pati, Jepara, dan Demak yang lahannya kebanjiran berharap pemerintah segera memberikan bantuan benih dan pupuk. Pasalnya, mereka kesulitan mencari modal untuk mengganti tanaman padi yang puso.

Pardi (50), warga Desa Karangasem, Kecamatan Gabus, Pati, mengatakan, sawahnya seluas 0,5 hektar sudah puso atau tidak bisa dipanen. Kerugian yang dialami Pardi sekitar Rp 13 juta.

”Saya sudah tidak mempunyai modal untuk tanam karena tidak jadi panen. Akibat gagal panen, saya juga tidak bisa mengembalikan utang ke bank Rp 5 juta. Saya berharap ada bantuan benih dan pupuk dari pemerintah,” kata Pardi.

Hal serupa dialami Diarso (53), petani Desa Wates, Kecamatan Undaan, Kudus. Sawah miliknya seluas 1 hektar tergenang selama lebih dari dua pekan sehingga padi yang siap panen membusuk.

”Gabah saya sudah tidak mungkin lagi laku. Saya tidak sempat menyelamatkannya karena saya harus mengungsi,” kata Diarso yang memperkirakan kerugiannya Rp 20 juta.

Nur, pemilik usaha penggilingan padi UD Wahyu Lestari, di Juwana, Pati, menuturkan, banjir beberapa waktu lalu sempat menghentikan kegiatan penggilingan selama 10 hari. ”Padahal, dalam sehari, rata-rata hasil penggilingan kami mencapai 4 ton beras,” ucap Nur.

Berdasarkan data yang dihimpun Kompas, total tanaman padi yang puso di lima kabupaten penyangga pangan nasional seluas 32.589 hektar. Di Demak padi yang puso seluas 7.696 hektar, Kudus 5.117 hektar, Jepara 7.484 hektar, Pati 11.122 hektar, dan Grobogan 1.170 hektar. Di Kudus, kerugian di bidang pertanian tersebut sebesar Rp 90,5 miliar, Pati Rp 156 miliar, dan Jepara Rp 34,7 miliar.

Di Kabupaten Pemalang, misalnya, luas sawah yang terendam banjir sekitar 2.244 hektar. Kepala Kantor Ketahanan Pangan Kabupaten Pemalang Ruhadi mengemukakan, sawah yang terendam tersebar di lima kecamatan, yaitu Kecamatan Ulujami, Comal, Petarukan, Ampelgading, dan Pemalang.

Pengadaan belum dimulai

Perum Bulog Subdivisi Regional IV Banyumas belum memulai pengadaan beras di seluruh area pertanian di wilayah Jateng bagian selatan. Tertundanya panen di sejumlah hamparan sawah akibat direndam banjir menyebabkan produksi padi masih terbatas dan lebih banyak dimanfaatkan petani untuk mencukupi kebutuhan sendiri.

Kepala Humas Perum Bulog Subdivre IV Banyumas M Priyono, di Purwokerto, mengatakan, hingga kini pihaknya belum mampu menyerap gabah dan beras dari petani meskipun musim panen berlangsung di sebagian wilayah eks Keresidenan Banyumas.

”Saat ini di sebagian wilayah Banyumas, Cilacap, Purbalingga, dan Banjarnegara memang sudah ada yang panen, tetapi sifatnya masih sporadis sehingga belum memungkinkan untuk diserap,” ujarnya.

Menurut dia, hasil panen tersebut lebih banyak digunakan petani untuk memenuhi kebutuhan sendiri. Sisanya baru dijual secara langsung ke pasaran.

Ketua Asosiasi Perberasan Banyumas Agus Purwanto juga mengungkapkan, banjir dan serangan wereng di sejumlah wilayah pada musim tanam pertama menyebabkan petani gagal tanam. Akhirnya, petani terpaksa mengulang kembali penyemaian dan penanaman. Akhirnya, panen yang awalnya dijadwalkan mulai awal Februari tertunda hingga setidaknya dua bulan ke depan.

Agus menyatakan, sekitar 9.353 hektar lahan sawah di Kebumen terendam banjir. Dari luasan tersebut, sekitar 4.226 hektar sawah dipastikan puso.

 

Sumber : kompas.com

Lainnya :
*
Kebutuhan Pangan DIY Meningkat di Akhir Tahun
Berita Eksternal
Oleh : Sekretariat | 27-12-2017 |
*
BKPP DIY Hadiri Open House Gubernur DIY
Berita Eksternal
Oleh : Sekretariat | 04-07-2017 |
*
BKPP DIY DAN DINAS PERTANIAN DIY GELAR SYAWALAN BERSAMA
Berita Eksternal
Oleh : Sekretariat | 04-07-2017 |
*
BKPP dan Jogja Benih Ikut Memeriahkan Hari Krida Pertanian Ke-45
Berita Eksternal
Oleh : Sekretariat | 18-06-2017 |
*
BKPP DIY Ikut Berpartisipasi Dalam Invesda Expo 2017
Berita Eksternal
Oleh : Sekretariat | 22-05-2017 |

Beranda Berita Eksternal