Logo DIY jogja istimewa
BADAN KETAHANAN PANGAN DAN PENYULUHAN
DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA
Yuk, Cintai Pangan Lokal Kita
Publikasi
Oleh : Admin | 25-02-2014 |

Sudah makan apa hari ini? Apakah kita pernah memperhatikan apa yang kita makan saat ini?
Apakah kita sudah mengkonsumsi makanan lokal kita?

“Saat ini masih banyak orang yang belum peduli dengan apa yang dimakan. Saya sendiri tidak makan nasi atau roti di rumah. Saya justru menerapkan food combining ketika berada di rumah, mengganti nasi dengan umbi-umbian,” papar Bondan Winarno, Pembina Yayasan KEHATI pada saat Diskusi “Ragam Pangan dan Makanan Olahan Indonesia, Untuk Siapa?” yang digelar Yayasan KEHATI pada 8 November 2012 lalu.

Pasti tak banyak yang tahu kalau Indonesia adalah negara yang memiliki sumber pangan terbanyak ketiga di dunia. Sayangnya, pangan lokal kita tidak begitu diperhatikan. Padahal, 51% bahan pangan ASEAN itu ada di Indonesia.

Dalam waktu lima tahun terakhir, konsumsi bahan pangan Indonesia naik hingga 41%. Dengan jumlah penduduk sebesar 240 juta jiwa, Indonesia menjadi pasar dan konsumen pangan terbesar di Asia Tenggara. Bahkan, nilai ekspor makanan olahan Indonesia naik 10,7% senilai US $ 1,67 miliar.

Namun mirisnya, nilai impor makanan olahan juga naik, sebesar US $ 1,73 miliar, melebihi nilai ekspor. Begitu juga dengan impor bahan pangan, terutama gandum, yang terus mengalami peningkatan. Indonesia bahkan tercatat sebagai negara pengimpor kedua terbesar di dunia. Menurut catatan United State Department of Agriculture (USDA) impor gandum Indonesia mencapai 7,1 juta ton tahun ini, meningkat dari tahun sebelumnya yang nilainya 6,7 juta ton.

Meningkatnya impor gandum ini disebabkan semakin banyak masyarakat kita yang mengkonsumsi produk olahan gandum setiap harinya. Juga karena Kebijakan pemerintah di masa lampau yang memaksa masyarakat kita untuk mengganti sumber karbohidratnya yang beranekaragam dengan beras.

Kementerian Pertanian mencatat, konsumsi singkong turun dari 47,6 persen menjadi 39,8 persen. Sementara konsumsi jagung juga anjlok dari 19 persen menjadi hanya 10,1%. Padahal, kita memiliki banyak sumber karbohidrat selain beras dan gandum. Misalnya umbi-umbian seperti ubi jalar, umbi suweg (Amorphophallus campanulatus forma hortenis Backer), uwi, kimpul, garut (Marantha arundinaceae), ganyong (Canna discolor L.syn), iles-iles, gembili (Discorea esculenta L.), dan hui gondola (ubi ungu pekat bercitarasa talas).



Para inisiator kampanye pangan lokal yang ikut dalam talk show, Perempuan dan Pangan.
Walikota Depok Nurmahmudi (tengah) menunjukkan bukunya “One Day Without Rice”,
disaksikan para narasumber lainnya yang juga pencetus kelestarian pangan lokal.

Ganyong pun bisa dibuat menjadi tepung dan diolah menjadi kue macam bakpao dengan pewarna alami dari bit, ubi ungu, tak kalah lezat dari kue berbahan tepung terigu atau gandum. Kandungan kalori umbi-umbian tersebut juga lebih rendah dibandingkan nasi dan gandum, untuk ganyong sekitar 77 kalori, garut 252 kalori dan ubi jalar sebanyak 83 kalori.

Selain itu, pangan local memiliki keunggulan dari aspek lingkungan, utamanya dari sisi Jejak karbonnya. Kita akan mengetahui dari mana pangan local tersebut berasal, siapa pembuatnya, dimana pembuatannya hingga berapa kandungan lokalnya. Dengan semangat kembali ke pangan local, Yayasan KEHATI mengajak semua pihak untuk peduli pada pelestarian dan pemanfaatan keanekaragaman hayati, agar pangan local Indonesia menjadi tuan di negeri sendiri. Tentunya, dengan melakukan penganekaragaman pangan lokal sumber karbohidrat, maka kita terlepas dari jeratan ketergantungan impor, juga untuk membantu dan melindungi produk dan petani kita. [Luluk Uliyah]



Artikel diambil dari Warta KEHATI Edisi November 2012 - Januari 2013.

Lainnya :
*
Pameran Dalam Rangka Hari Perkebunan Ke-60
Publikasi
Oleh : Admin | 12-12-2017 |
*
Rundown Acara HPS XXXVII Tahun 2017
Publikasi
Oleh : Admin | 07-09-2017 |
*
Hari Pangan Sedunia XXXVII 2017
Publikasi
Oleh : Admin | 20-08-2017 |
*
Peringatan Hari Pangan Sedunia XXXVI 2016
Publikasi
Oleh : Admin | 31-08-2016 |
*
Kantin Sehat Kunci Kualitas Generasi Muda
Publikasi
Oleh : Admin | 03-03-2014 |

Beranda Publikasi