Logo DIY jogja istimewa
BADAN KETAHANAN PANGAN DAN PENYULUHAN
DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA
Makanan Lokal Dapat Mengurangi Emisi Gas Rumah Kaca
Publikasi
Oleh : Admin | 26-02-2014 |

Siapa sangka, pilihan makanan yang kita makan sehari-hari memberikan kontribusi besar terhadap perubahan iklim dan pemanasan global. Bagaimana tidak, berdasarkan data dari Dewan Nasional Perubahan Iklim (DNPI), sebesar 30% emisi gas rumah kaca global berasal dari sektor pertanian dan produksi makanan. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk memilah dan memilih makanan yang ramah terhadap lingkungan.




Ragam jenis sorgum dari NTT.

Sumbangan terbesar dari sektor pertanian dan produksi makanan terhadap emisi gas dunia berasal dari energi yang digunakan untuk produksi, pola budidayanya (menggunakan metode organik atau menggunakan bahan kimia), dan seberapa jauh makanan tersebut sampai ke meja makan konsumen. Segala proses ini meninggalkan jejak karbon yang relatif banyak. Jejak karbon adalah jumlah emisi gas rumah kaca yang dilepaskan oleh pribadi atau kelompok dalam melakukan kegiatannya dalam rentang waktu tertentu.

“Makanan yang dihasilkan lebih dekat ke tempatnya disantap akan mengeluarkan emisi lebih sedikit terkait transportasi,
lebih segar dan membantu produsen lokal. Dengan berkurangnya jarak tempuh makanan, berkurang pula kebutuhan untuk mengolahnya dan untuk pendinginan guna mengurangi pembusukan,” ujar Amanda Katili Niode, Kordinator Divisi Komunikasi, Informasi, Edukasi DNPI, dalam sebuah diskusi tentang pangan lokal di kantor DNPI, Selasa 21 Mei 2013. Jadi, pengolahan bahan mentah menjadi produk siap pakai yang kemudian di ekspor ataupun di impor dalam tataran domestik maupun internasional, meninggalkan jejak karbon yang tinggi.

Contoh paling sederhana adalah perdagangan buah jeruk di pasar atau supermarket di Indonesia. Jeruk Mandarin memiliki jejak karbon yang lebih banyak karena harus diimpor dari China, jika dibandingkan dengan Jeruk Pontianak yang merupakan produksi dalam negeri. Dari contoh ini, penting bagi konsumen Indonesia untuk mengurangi emisi gas rumah kaca dengan mendorong atau mengkonsumsi makanan lokal. Seperti yang dikatakan oleh Amanda, semakin dekat kita mendapatkan makanan yang kita konsumsi sehari-hari, dalam artian merupakan produk lokal yang relatif sedikit kebutuhan transportasinya, maka emisi akan semakin kecil.

Tentang produk-produk panganan lokal ini, Arie Parikesit, penggiat kuliner dari Kelanarasa Culinary Solution, mengatakan bahwa setiap daerah memiliki potensi makanan lokal yang luar biasa. Seperti halnya dengan Jepang yang mengembangkan program One Food One Village atau Thailand dengan One Tambon (kecamatan) One Product, Indonesia juga mampu melakukan hal yang sama. Dua negara tersebut mendorong panganan lokal menjadi ciri khas, daya tarik wisatawan, tetapi juga memiliki fungsi ketahanan pangan secara lokal. Masyarakat mampu mencukupi kebutuhan pangannya tanpa harus membeli dari daerah lain yang tentunya akan memperbanyak jejak karbon.”Masyarakat di Oita Perfecture, Jepang, melaksanakan program One Food One Village dengan cara menonjolkan speciality dari setiap desa, untuk menurunkan ketergantungan terhadap makanan impor” demikian keterangan Arie. [Rosyid Nurul Hakiim]
 

Artikel diambil dari Warta KEHATI Edisi April - Juni 2013.

 

Lainnya :
*
Pameran Dalam Rangka Hari Perkebunan Ke-60
Publikasi
Oleh : Admin | 12-12-2017 |
*
Rundown Acara HPS XXXVII Tahun 2017
Publikasi
Oleh : Admin | 07-09-2017 |
*
Hari Pangan Sedunia XXXVII 2017
Publikasi
Oleh : Admin | 20-08-2017 |
*
Peringatan Hari Pangan Sedunia XXXVI 2016
Publikasi
Oleh : Admin | 31-08-2016 |
*
Kantin Sehat Kunci Kualitas Generasi Muda
Publikasi
Oleh : Admin | 03-03-2014 |

Beranda Publikasi