Logo DIY jogja istimewa
BADAN KETAHANAN PANGAN DAN PENYULUHAN
DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA
Ambarwati, Mengubah Umbi Menjadi Penganan Lezat
Publikasi
Oleh : Admin | 28-02-2014 |

Bakpao warna-warni itu terlihat cantik ketika disusun membentuk piramida. Disebelahnya, ada kue brownies yang juga tertata menggiurkan. Tampak seperti makanan mewah yang mahal. Tidak banyak yang tahu, kue-kue tersebut ternyata dibuat dari bahan utama tepung singkong, dan bukan tepung gandum yang selama ini digunakan banyak orang.

Adalah Ambarwati Esti Pertiwi yang bisa melakukannya. Dia tidak hanya bisa membuat berbagai kue mewah dengan bahan utama tepung singkong, tetapi juga dari sukun, ubi, talas, iles-iles, ganyong dan umbi-umbian lainnya. Upaya Ambarwati ini bukannya tanpa sebab. Diawali ketika dia melihat jajanan yang dimakan teman-teman anaknya di sekolah yang banyak mengandung bahan pengembang dan pengawet. Anak-anak itu juga lebih mengenal makanan cepat saji dari luar negeri daripada makanan tradisional Indonesia. Inilah yang membuat hati Ambarwati tergerak. Ia ingin anak-anaknya dan anak-anak yang lain dapat mengkonsumsi makanan sehat dan lebih mengenal makanan tradisional Indonesia.

Ambarwati pun mulai mencoba tidak membuat kue dari bahan gandum, karena tepung gandum yang ada di Indonesia semuanya impor. Padahal Indonesia kaya akan keanekaragaman umbi-umbian yang dapat diolah menjadi tepung. Ia kemudian menggali pembuatan tepung dari bahan-bahan yang lain, seperti umbi-umbian yang bahannya banyak ditemukan di sekelilingnya.

Umbi-umbian ini dipilih karena dapat menghasilkan tepung bebas gluten, sehat dan aman serta juga sebagai antioksidan. Tepung umbi-umbian ini juga dibutuhkan oleh anak-anak penderita autis atau pun pengidap alergi. Lewat “Griya Arum-Ayu” Ambarwati telah menciptakan 533 jenis makanan olahan berbahan umbi-umbian. Seperti brownies, blackforest, roti, bakpau hingga puding. Dia pun memakai bahan pewarna alami yang juga berasal dari bahan pangan. Misalnya, untuk warna ungu, dia menggunakan ubi ungu, warna kuning dari kunyit atau ubi kuning, hijau dari daun suji, serta yang lainnnya. Akhirnya, Ambarwati pun menggagas Bintaro Enterpreneur Community (BEC) pada 15 Desember 2009, untuk menjadi wadah mengenalkan pangan lokal dan kewirausahaan kepada lingkungan sekitar.

Bersama komunitasnya, Ambar melatih ibu-ibu untuk membuat kue dan beragam penganan olahan dari sumber pangan lokal sehat yang berasal dari sekeliling rumah. Mereka juga dilatih untuk mengembangkan kewirausahaan. Usaha ini selain membantu memberikan pendapatan bagi ibu rumah tangga, juga memberikan penyadaran akan pola hidup sehat dengan memanfaatkan pangan lokal yang selama ini sudah mulai ditinggalkan oleh masyarakat.

Bersama komunitasnya, Ambarwati mengadakan Bintaro Healthy Local Food Festival yang menampilkan beragam makanan yang terbuat dari tepung umbi-umbian. Upaya ini telah membuat Ambarwati diganjar penghargaan Adhikarya Pangan Nusantara, kategori Pelopor Ketahanan Pangan Nasional oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, di Istana Negara, Desember 2011. Ambarwati juga menjadi mitra kerja BKPD Banten untuk membantu mensosialisasikan program penganekaragaman pangan dan membagikan ilmunya ke berbagai Kelompok Wanita Tani, Dharma Wanita, PKK, Posyandu, Pelajar, hingga mahasiswa. Ambarwati mengajak agar masyarakat tidak bergantung pada terigu, dan beralih Kepada sumber pangan lokal lain seperti umbi-umbian yang banyak dimiliki negeri ini. [ ]
 

 

Artikel diambil dari Warta KEHATI Edisi Juli - Oktober 2013.

Lainnya :
*
Pameran Dalam Rangka Hari Perkebunan Ke-60
Publikasi
Oleh : Admin | 12-12-2017 |
*
Rundown Acara HPS XXXVII Tahun 2017
Publikasi
Oleh : Admin | 07-09-2017 |
*
Hari Pangan Sedunia XXXVII 2017
Publikasi
Oleh : Admin | 20-08-2017 |
*
Peringatan Hari Pangan Sedunia XXXVI 2016
Publikasi
Oleh : Admin | 31-08-2016 |
*
Kantin Sehat Kunci Kualitas Generasi Muda
Publikasi
Oleh : Admin | 03-03-2014 |

Beranda Publikasi