Logo DIY jogja istimewa
BADAN KETAHANAN PANGAN DAN PENYULUHAN
DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA
MIDES DARI KETELA MAKIN DISUKAI
Berita Eksternal
Oleh : Erik | 22-09-2014 |

 

Ketela pohung atau singkong kerap dipandang sebelah mata oleh sebagian orang dengan berbagai alasan. Ada penilaian ketela sebagai sumber makanan lokal ndesa dan kurang bergengsi. Namun siapa sangka, jika sdah diolah ketela punya nilai ekonomis tinggi. Bahkan produk turunannya berupa mides atau mie bangkok makin digemari banyak orang. Mulai masyarakat lapisan kelas bawah, menengah hingga kelas atas. Apalagi jika sudah diolah menjadi mides rebus atau goreng. Banyak orang yang menyukai makanan tersebut yang secara tidak langsung mengangkat gengsi ketela itu sendiri.

Salah satu pusat mides terbesar di Bantul, berada di Dusun Klisat, Desa Srihardono, Kecamatan Pundong. Di dusun yang berada di tepi Sungai Opak itu beberapa rumah secara khusus memproduksi mides. Salah satu pembuat mi berbahan tepung ketela terbesar di rumah Mulyono yang dalam sehari sanggup memproduksi sedikitnya 35 kg hingga 40 kg tepun ketela.

Noviya Sayekti, pengelola, Rabu (17/9, menyebutkan, proses mides berbahan tepung dirintis mendiang orangtuanya tahun 1990. Sejak itu perkembangan begitu pesat, permintaan terus mengalir. Setelah Mulyono meninggal, usahanya kini diteruskan oleh Ny Tugilah (42), istrinya, dan putrinya Noviya Sayekti.

 

Noviya mengatakan, mides produksinya total memanfaatkan tepung yang dihasilkan dari sari ketela. Dengan tepung ketela itu produknya menjadi sangat khas dan tetap sehat. Mi itu jika di Bantul begitu terkenal sebagai bahan utama pembuat mides. Sementara ada juga mi pentil yang biasa dijual belikan di pasar tradisional. Dijelaskan, permintaan mi sangat fluktuatif menyesuaikan dengan situasi masyarakat.

“Ketika hari Lebaran, tahun baru, atau even besar dalam sehari bisa mencapai 100 kg lebih. Dengan permintaan itu artinya membutuhkan bahan tepung ketela hampir 50 kg. Karena setiap satu kilogram tepung akan menghasilkan mi dua kali lipatnya. Meski produknya makanan, semua bebas bahan kimia. Tahap demi tahap pembuatan dilewati dengan cara manual. Ketela dikupas, dicuci, digiling, diendapkan untuk diambil sari patinya. Selanjutnya tepung dari sari ketela itu dijemur sebelum diolah menjadi mides.

Noviya mengatakan, pati ketela diuleni sampai jadi bahan untuk dipotong menjadi potongan mi. Proses pembuatan mi tersebut cukup panjang. Langkah demi langkah itu dilakukan secara manual. Meski begitu produk olahannya tidak diragukan kualitasnya. Setelah sudah dalam bentuk potongan, mi kemudian direbus dan dicuci sampai bersih. Bersih tidaknya tahapan pencucian akan menentukan mi mampu bertahan.

Noviya mengungkapkan, untuk saat ini produknys sebatas mides dan mi pentil yang tidak bisa bertahan dalam jangka waktu lama. Sebelumnya serangkaian uji coba membuat mides kering sudah dilakukan. Namun hingga sekarang belum berhasil menemukan resep itu.”Jika sudah ditemukan formula tepat akan kami coba lagi membuat mides kering sehingga bisa bertahan dalam waktu lama”, ujar Noviya.  Bahkan ke depan akan dicoba juga pengembangan usahanya dengan alat modern. Sehingga produksinya bisa terus ditingkatkan

Sumber : Harian Kedaulatan Rakyat, Jumat Legi 19 September 2014

Lainnya :
*
Kebutuhan Pangan DIY Meningkat di Akhir Tahun
Berita Eksternal
Oleh : Sekretariat | 27-12-2017 |
*
BKPP DIY Hadiri Open House Gubernur DIY
Berita Eksternal
Oleh : Sekretariat | 04-07-2017 |
*
BKPP DIY DAN DINAS PERTANIAN DIY GELAR SYAWALAN BERSAMA
Berita Eksternal
Oleh : Sekretariat | 04-07-2017 |
*
BKPP dan Jogja Benih Ikut Memeriahkan Hari Krida Pertanian Ke-45
Berita Eksternal
Oleh : Sekretariat | 18-06-2017 |
*
BKPP DIY Ikut Berpartisipasi Dalam Invesda Expo 2017
Berita Eksternal
Oleh : Sekretariat | 22-05-2017 |

Beranda Berita Eksternal