Logo DIY jogja istimewa
BADAN KETAHANAN PANGAN DAN PENYULUHAN
DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA
KEMBANGKAN PANGAN LOKAL”UMBI-UMBIAN PENGGANTI GANDUM”
Berita Eksternal
Oleh : Erik | 05-02-2015 |

Besarnya ketergantungan Indonesia pada impor gandum menjadi keprihatinan dari Pusat Studi Pangan dan Gizi (PSPG) Universitas Gadjah Mada (UGM). Kebutuhan gandum diprediksi terus meningkat seiring dengan lajunya jumlah penduduk dan adanya globalisasi perdagangan pangan dunia. Indonesia belum mampu memproduksi gandum secara komersial, program diversifikasi pangan belum gencar dilaksanakan.

Dampaknya, impor gandum dari tahun ke tahun kian meningkat. Pada tahun 2010-2011, impor gandum mencapai 7,4 juta ton dan naik menjadi 7,8 juta ton pada tahun 2011-2012. Melihat kenyataan itu peneliti PSPG Prof. Dr. Ir. Eni Harmayani, M.Sc. mengharap pengembangan umbi-umbian sebagai pangan lokal mampu mengurangi impor gandum serta menjadi komponen pangan fungsional.

“Meski demikian masih ada anggapan yang masih beredar di masyarakat tentang umbi-umbian sebagai makanan kelas dua sehingga kurang diminati. Pengembangan umbi-umbian sebagai pangan fungsional diyakini bisa meningkatkan posisi umbi-umbian,” kata Eni Harmayani, Selasa (27/1) menanggapi peringatan Hari Gizi dan Makanan yang jatuh pada setiap 25 Januari.

Bukan sekedar sebagai alternatif pengganti terigu, menurutnya, umbi-umbian dapat menjadi pangan pilihan yang bernilai tinggi dengan berbagai aplikasi. Diantaranya sebagai bahan utama maupun bahan pendukung untuk produk-produk bakery, snack, biskuit, mi, bakso, bubur, sosis, nugget, serta berbagai bahan penyalut, pengental maupun pengisi.

Industri makanan, pasar mi dan biskuit di Indonesia cukup besar. Dari segmen biskuit, jenis cookies, wafer dan crackers menyumbang kontribusi terbesar sebanyak 85 persen.”Karenanya potensi pengembangan cookies yang mengandung prebiotik dari umbi-umbian lokal cukup besar,” ujar wanita kelahiran Yogyakarta, 9 Juni 1963 ini.

Menurutnya, besarnya potensi aplikasi tepung dan pati umbi-umbian lokal pada berbagai produk pangan perlu sinergi antar penyedia bahan baku, teknologi proses yang dapat mengolah umbi-umbian secara efisien menjadi pangan fungsional serta dukungan kebijakan pemerintah. Pemerintah selama ini tidak memberikan insentif berupa kebijakan pemberian subsidi kepada petani penanam tanaman pangan lokal.

Dukungan pemerintah ini, kata Eni, sangat diperlukan sehingga produksi pangan lokal ini produksinya bisa meningkat. Eni menerangkan, umbi-umbian seperti garut, singkong, ganyong, gembili dan ubi jalar setelah diteliti terbukti berpotensi mejadi pangan fungsional karena memiliki kandungan prebiotik untuk meningkatkan saluran cerna dan sisitem imun.

“Ubi jalar, gembili dan ganyong ini memiliki serat dan prebiotik yang sangat baik buat kesehatan, selain kaya karbohidrat,”ujarnya.

Dijelaskan oleh ketua PSPG UGM Prof. Dr. Umar Santoso, PSPG saat ini tengah meneliti berbagai jenis umbi-umbian dari berbagai daerah di Indonesia yang bisa dijadikan sebagai pengganti terigu.”Pangan lokal ini bisa diarahakan untuk subsitusi gandum. Beberapa diantaranya sebagai alternatif pengganti terigu seperti garut, ubi jalar, singkong, ganyong dan gembili,’kata Umar.

Meski demikian, kata Umar, tidak mudah memproduksi umbi-umbian menjadi pengganti  tepung terigu.”Tidak banyaknya industri skala besar yang memproduksi tepung dari umbi-umbian lokal ini akibatnya harganya menjadi lebih mahal tiga kali lipat dari harga terigu;”katanya.

Karena itu, pemerintah perlu menggalakkan petani untuk menanam tanaman pangan lokal dengan adanya dukungan insentif berupa pemberian subsidi. Di lain pihak, masyarakat juga diajak mengkonsumsi pangan lokal lewat diversifikasi pangan sehingga pihak investor dan industri melirik budaya pangan lokal tersebut, tapi jika yang digalakkan impor gandum, maka akan terjadi ketergantungan terus.

“Saya yakin apabila pemerintah berani mengambil tindakan untuk menghentikan impor gandum maka banyak industri yang beralih pada tepung yang berasal dari umbi-umbian. Kebijakan itu akan memberi peluang kepada petani untuk menanam dan harganya pun bisa bersaing di pasaran,” kata Umar Santoso.

 

Sumber : Harian Kedaulatan Rakyat, 30 Januari 2015

Lainnya :
*
Kebutuhan Pangan DIY Meningkat di Akhir Tahun
Berita Eksternal
Oleh : Sekretariat | 27-12-2017 |
*
BKPP DIY Hadiri Open House Gubernur DIY
Berita Eksternal
Oleh : Sekretariat | 04-07-2017 |
*
BKPP DIY DAN DINAS PERTANIAN DIY GELAR SYAWALAN BERSAMA
Berita Eksternal
Oleh : Sekretariat | 04-07-2017 |
*
BKPP dan Jogja Benih Ikut Memeriahkan Hari Krida Pertanian Ke-45
Berita Eksternal
Oleh : Sekretariat | 18-06-2017 |
*
BKPP DIY Ikut Berpartisipasi Dalam Invesda Expo 2017
Berita Eksternal
Oleh : Sekretariat | 22-05-2017 |

Beranda Berita Eksternal