Logo DIY jogja istimewa
BADAN KETAHANAN PANGAN DAN PENYULUHAN
DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA
TEMU TUGAS PENYULUH, SIAP MENGAWAL SWASEMBADA PANGAN DIY
Bidang Koordinasi Penyuluhan
Oleh : Andi Bagus | 24-02-2015 |

Pada 17 & 18 Februari 2015 bertempat di Gedung Serbaguna STPP Yogyakarta telah dilaksakanan kegiatan Temu Tugas Penyuluh Pertanian PNS lingkup D.I.Yogyakarta. Temu Tugas ini sebagai bentuk peningkatan kapasitas penyuluh sehingga diharapkan dapat membantu dalam meningkatkan kualitas dan kinerja penyuluh sesuai dengan indikator 9 (sembilan) tugas pokok penyuluh dalam melaksanakan tugas lebih professional dan punya kompetensi sesuai tingkat keahliannya serta mampu meningkatkan wawasan dan potensi penyuluh untuk mendukung ketugasan dalam ikut mengawal program-program pembangunan pertanian di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta utamanya dalam mewujudkan Swasembada Pangan. Bapak Presiden RI telah menetapkan bahwa dalam waktu 2015-2017 Indonesia harus swasembada pangan terutama beras melalui Program Upaya Khusus (UPSUS) percepatan pencapaian swasembada padi, jagung dan kedelai. Indikatornya adalah tidak ada impor beras/substitusi impor dan mendorong ekspor beras sehingga neraca perdagangan beras kita surplus.

                                      

Dalam Temu Tugas ini mengundang Pembicara dari Pusat Penyuluhan Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian RI, Kepala BKPP DIY, Kepala Dinas Pertanian RI dan Kabid.Koordinasi Penyuluhan DIY. Pusat Penyuluhan memberikan materi tentang Dukungan Penyuluhan dalam Upaya Khusus (UPSUS) Percepatan Pencapaian Swasembada Padi, Jagung, dan Kedelai tahun 2015. Berdasarkan hasil kunjungan lapangan oleh Menteri Pertanian RI telah ditemukan enam masalah mendasar pembangunan pertanian, yaitu: (1) irigasi yang rusak sebesar 52% atau sekitar 3,3 juta hektar; (2) ketersediaan dan serapan benih rendah hanya mencapai 20%, (3) kekurangan dan keterlambatan distribusi pupuk terjadi setiap tahun; (4) kekurangan tenaga kerja pertanian yang jumlahnya rata-rata menurun 500 ribu rumah tangga petani setiap tahun, (5) kekurangan 39.180 tenaga penyuluh dan (6) lemahnya koordinasi antara stakeholder terkait. Keenam masalah mendasar ini berkontribusi terhadap kehilangan peluang produksi padi sekitar 20 juta ton GKG per tahun. Upaya yang harus dilakukan antara lain; (1) Menjabarkan Target Sasaran Tanam Sampai Ke  Penyuluh Dan Poktan; (2) Menggerakan Pengawalan Oleh BP3K (1BP3K, Min 8 Penyuluh, dan 1 Penyuluh 8 Kel, 25 Ha atau 200 Ha/Penyuluh, atau 1.600 Ha/BP3K); (3) Penerapan Sistem LAKUSUSI, Pelatihan On The Job Trainning, Supervisi, Secara Berjenjang, Terpadu, Teratus dan Sistematis; (4) Penyediaan Sarana/Prasarana Produksi 6 (Enam) Tepat (Waktu,Tempat, Harga, Jumlah, Mutu, dan Jenis). Masalah yang sering dihadapi dalam pelaksanaan Program Kegiatan adalah kurangnya Sinergi dan Koordinasi, oleh karena itu Kementerian Pertanian telah  menerbitkan Permentan Nomor: 131 Tahun 2014 untuk memperkuat sinergi dan sinkronisasi program swasembada pangan sekaligus mempertegas dan mengklarifikasi peran Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD)  yang membidangi pertanian.

                                    

                Dalam sambutan kepala BKPP DIY menjelaskan bahwa tantangan Swasembada Pangan di DIY adalah alih fungsi lahan yang cukup besar yaitu kurang lebih mencapai 200 Ha per tahun atau 0,42% luas lahan sawah. Keadaan penduduk di DIY cukup menarik karena berdasar data statistik Indeks Pembangunan Manusia (IPM) DIY masih diatas rata-rata nasional dan no 2 setelah DKI Jakarta, Indeks kebahagiaan masyarakat DIY juga lebih tinggi diatas rata-rata nasional, akan tetapi rata-rata angka kemiskinan DIY masih diatas rata-rata nasional yaitu rata-rata DIY 15% sedangkan rata-rata nasional 14%.  Arah pembangunan DIY 2012-2017 : Paradigma Baru melalui RENAISANS YOGYAKARTA. Prinsip ketahanan pangan DIY adalah : Percepatan diversifikasi pangan & konsumsi pangan untuk mengurangi ketergantungan thd jenis pangan tertentu, Pengelolaan cadangan pangan sesuai kondisi SPESIFIK wilayah DIY,  Sinergi kegiatan (kerjasama kolektif) untuk menciptakan pemberdayaan masyarakat. Langkah strategis dalam mewujudkan rennaisans pangan adalah: Pengembangan local genius / indigenous knowledge, Mengoptimalkan produksi pangan lokal, Perlindungan pasar, Penyediaan sarpras untuk memacu produksi pangan yang beragam & kemudahan akses. VISI BKPP DIY adalah : Mewujudkan ketahanan pangan yang kuat, berkarakter dan berbudaya secara berkelanjutan melalui tercapainya kemandirian dan kedaulatan pangan didukung oleh sistem penyuluhan yang efektif dan efisien. Kebijakan pembangunan penyuluhan di DIY antara lain; Peningkatan kapasitas tenaga penyuluh pertanian, perikanan dan kehutanan, Peningkatan koordinasi penyelenggaraan penyuluhan pertanian, perikanan dan kehutanan, Pemantapan kelembagaan penyuluhan pertanian, perikanan dan kehutanan, Peningkatan kapasitas pelaku utama dan pelaku usaha bidang pertanian, perikanan dan kehutanan. Yang perlu dilakukan dukungan penyuluhan antara lain; Pengawalan dan Pendampingan Penyuluh mendukung tujuan program pembangunan; Penguatan Kelembagaan Penyuluhan à Tindaklanjut terbitnya Perpres No.154 Tahun 2014 tentang Kelembagaan Penyuluhan; Penguatan Kelembagaan petani dimulai dari penumbuhan dan pengembangan kelompoktani, gapoktan dan selanjutnya dikembangkan menjadi kelembagaan ekonomi petani yang kuat dan mandiri; Penumbuhan, Penilaian dan Peningkatan kelas kemampuan kelompok sebagai indikator keberhasilan pembinaanan oleh penyuluh.

                    

 

Lainnya :
*
PENYUSUNAN PROGRAMA PENYULUHAN PERTANIAN TINGKAT DIY
Bidang Koordinasi Penyuluhan
Oleh : Andi Bagus | 05-11-2018 |
*
Penyuluh Bersemangat dalam Mengikuti Bimtek Materi Penyuluhan
Bidang Koordinasi Penyuluhan
Oleh : Andi Bagus | 20-07-2018 |
*
Sinkronisasi dan Koordinasi Kegiatan Penyuluhan Pertanian Tingkat DIY
Bidang Koordinasi Penyuluhan
Oleh : Andi Bagus | 10-04-2018 |
*
TEMU TUGAS PENYULUH, MENDUKUNG SUKSES SWASEMBADA PANGAN DI DIY
Bidang Koordinasi Penyuluhan
Oleh : Andi Bagus | 28-02-2018 |
*
PEMBINAAN DAN EVALUASI THL TBPP DIY TAHUN 2017
Bidang Koordinasi Penyuluhan
Oleh : Andi Bagus | 25-10-2017 |

Beranda Bidang Koordinasi Penyuluhan