Logo DIY jogja istimewa
BADAN KETAHANAN PANGAN DAN PENYULUHAN
DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA
TEMU TUGAS THL TBPP DIY, MENDUKUNG KESIAPAN UPSUS PAJALE DIY 2015
Bidang Koordinasi Penyuluhan
Oleh : Andi Bagus | 08-04-2015 |

Pada 30 & 31 Maret 2015 bertempat di Gedung Serbaguna STPP Yogyakarta, Badan Ketahanan Pangan dan Penyuluhan DIY menyelenggarakan Temu Tugas THL TBPP DIY. Kegiatan ini dilaksanakan dalam rangka mendukung kesiapan penyuluh dalam Upaya Khusus (UPSUS) Swasembada Padi, Jagung dan Kedelai (PAJALE) di DIY. Dalam temu tugas ini dilaksanakan dalam dua angkatan dengan peserta adalah Tenaga Harian Lepas Tenaga Bantu Penyuluh Pertanian (THL TBPP) dari 4 kabupaten dan 1 kota di DIY. Dalam Temu tugas ini menghadirkan Narasumber antara lain; Kebijakan Penyuluhan di D.I.Yogyakarta oleh Kepala BKPP DIY, Upaya Khusus Peningkatan Produksi Padi, Jagung dan Kedelai untuk mewujudkan swasembada pangan oleh Dinas Pertanian DIY, Dukungan Teknologi BPTP dalam Mendukung UPSUS 2015 di DIY oleh Kepala BPTP Yogyakarta dan materi tentang Teknik dan Metode Penyuluhan dalam Pengawalan & Pendampingan UPSUS 2015 di DIY oleh Ketua STPP Yogyakarta.

Dalam Upaya Khusus (UPSUS) ditargetkan Pencapaian Swasembada padi, jagung dan kedelai dalam waktu 3 tahun. Target Produksi  DIY Tahun 2015 Padi  914.484 ton, Jagung  323.031 ton dan Kedelai  27.934 ton. Permasalahan dalam pencapaian swasembada padi, jagung dan kedelai antara lain; Alih fungsi dan fragmentasi lahan pertanian, Rusaknya infrastruktur/jaringan irigasi, semakin berkurangnya dan mahalnya upah tenaga kerja pertanian, serta kurangnya peralatan mekanisasi pertanian, Masih tingginya susut hasil (losses), Belum terpenuhinya kebutuhan pupuk dan benih sesuai rekomendasi spesifik lokasi, serta belum memenuhi 6 tepat, Lemahnya permodalan petani, Harga komoditas pangan  jatuh dan sulit memasarkan  hasil pada saat panen raya.  Tujuan penyelenggaraan UPSUS antara lain ; menyediakan kebutuhan prasarana dan sarana pertanian berupa air irigasi, benih, pupuk dan alsintan dan sarana produksi lainnya. Selain itu juga meningkatkan Indeks Pertanaman (IP) dan produktivitas pada lahan sawah, lahan tadah hujan, lahan kering, lahan rawa pasang surut dan rawa lebak untuk mendukung pencapaian Swasembada Berkelanjutan Padi dan Jagung serta Swasembada Kedelai. Kegiatan utama dalam UPSUS antara lain; Pengembangan/rehabilitasi  jaringan irigasi, Optimasi Lahan, Gerakan Penerapan Pengelolaan Tanaman Terpadu (GP-PTT), Perluasan Areal Tanam Kedelai  (PAT-PIP Kedelai), Perluasan Areal Tanam Jagung (PAT Jagung), Penyediaan Bantuan Benih, Penyediaan Bantuan Pupuk, Penyediaan Bantuan Alat dan Mesin Pertanian, Pengendalian OPT dan Dampak Perubahan Iklim, Asuransi Pertanian, Pengawalan / Pendampingan. Indikator kinerja UPSUS antara lain; Meningkatnya Indeks Pertanaman (IP) minimal sebesar 0,5 dan Meningkatnya produktivitas padi minimal sebesar 0,3 Ton GKP/Ha; Tercapainya produksi kedelai minimal sebesar 1,57 Ton/Ha pada areal tanam baru dan meningkatnya produktivitas kedelai sebesar 0,2 ton/Ha pada areal existing; Tercapainya produksi jagung minimal sebesar 5 Ton/Ha pada areal tanam baru dan meningkatnya produktivitas jagung sebesar 1 ton/Ha pada areal existing.

 

Berdasarkan penelitian dari BPTP bahwa komponen teknologi yang menyebabkan kenaikan atau penurunan produksi dan produktivitas antara lain; irigasi dan infrastruktur berpengaruh pada peningkatan produksi sebanyak 16%, aplikasi benih unggul mempengaruhi peningkatan produktivitas sebesar 28%, teknologi pemupukan berpengaruh pada peningkatan produktivitas sebesar 10%, komponen penyuluhan berpengaruh pada peningkatan produksi sebesar 27%, hama dan penyakit dapat berpengaruh pada penurunan produktivitas sebesar 4%, pasca panen berpengaruh pada penurunan produksi sebesar 1,5% karena adanya loses, mekanisasi berpengaruh pada peningkatan produktivitas sebesar 10-18% melalui percepatan waktu budidaya dan penurunan loses. Komponen dasar Teknologi Produksi antara lain; Penggunaan varietas unggul baru, Penggunaan benih bermutu dan bibit sehat, Penyiapan lahan optimal, Penanaman bibit muda (15 hari), Pengaturan cara tanam, Pemberian kompos atau bahan organik, Penggunaan pupuk berdasarkan kondisi lahan dan kebutuhan tanaman, Pengaturan pengairan secara benar, Pelaksanaan PHT sesuai OPT sasaran, Perbaikan penanganan panen dan pasca panen. Pemupukan spesifik lokasi menggunakan Perangkat Uji Tanah Sawah (PUTS), Bagan Warna Daun (BWD), Peta Status Hara Skala 1:50.000 dan uji kalibrasi, uji petak omisi (minus satu unsur). Rekomendasi pemupukan berdasarkan peraturan Menteri Pertanian No.40 tahun 2007. Berdasarkan hasil penelitian sistem Tajarwo telah meningkatkan hasil lebih dari pada sistem tegel. Prinsip dasar Tajarwo antara lain; Populasi lebih dari 160.000 /ha dan ruang terbuka 25-50%, Tanaman pinggir diharapkan memberikan produksi tinggi, Jarak tanam 25 x 25 cm = 160.000 rumpun/ha, Tajarwo 2:1, semua barisan disisipi = 213.300 rumpun, sehingga populasinya  naik 33,31% -> tegel 25 x25 cm, Tajarwo 4:1 tipe 1, semua barisan disisipi = 256.000; populasinya naik 60%. Cocok di lahan kurang subur, Tajarwo 4:1 tipe 2, barisan pinggir disisipi = 192.712,  populasinya naik 20,44%. Cocok di lahan subur -> (tajarwo 4:1 ompong).

Lainnya :
*
PENYUSUNAN PROGRAMA PENYULUHAN PERTANIAN TINGKAT DIY
Bidang Koordinasi Penyuluhan
Oleh : Andi Bagus | 05-11-2018 |
*
Penyuluh Bersemangat dalam Mengikuti Bimtek Materi Penyuluhan
Bidang Koordinasi Penyuluhan
Oleh : Andi Bagus | 20-07-2018 |
*
Sinkronisasi dan Koordinasi Kegiatan Penyuluhan Pertanian Tingkat DIY
Bidang Koordinasi Penyuluhan
Oleh : Andi Bagus | 10-04-2018 |
*
TEMU TUGAS PENYULUH, MENDUKUNG SUKSES SWASEMBADA PANGAN DI DIY
Bidang Koordinasi Penyuluhan
Oleh : Andi Bagus | 28-02-2018 |
*
PEMBINAAN DAN EVALUASI THL TBPP DIY TAHUN 2017
Bidang Koordinasi Penyuluhan
Oleh : Andi Bagus | 25-10-2017 |

Beranda Bidang Koordinasi Penyuluhan