Logo DIY jogja istimewa
BADAN KETAHANAN PANGAN DAN PENYULUHAN
DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA
35 Tahun Jadi Anggota FAO, Apa Manfaat Bagi Indonesia?
Berita Eksternal
Oleh : Admin | 18-10-2015 |

35 Tahun Jadi Anggota FAO, Apa Manfaat Bagi Indonesia?Palembang -Setiap 16 Oktober negara-negara di dunia memperingati hari lahirnya Food And Agriculture Organization (FAO) termasuk Indonesia. Badan yang lahir pada 16 Oktober 1945 ini telah berusia 70 tahun. Indonesia tercatat bergabung dalam keanggotaan FAO sejak tahun 1980 atau selama 35 tahun.

Tahun ini FAO memperingati keberadaannya di Indonesia dengan meluncurkan prangko. Bukan sembarang prangko karena gambar dalam prangko tersebut menyampaikan pesan kiprah FAO di Indonesia.

Perangko ini ditanda tangani langsung oleh Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) dalam kegiatan tanam serempak yaitu rangkaian Peringatan Hari Pangan Sedunia (HPS) XXXVdi Desa Palu, Kecamatan Pemulutan, Kabupaten Ogan Ilir, Sabtu (17/10/2015).

"Tahun ini sebagai perayaan lahirnya 70 tahun FAO pada 16 Oktober 1945 lalu dan 35 tahun FAO di Indonesia kami meluncurkan prangko. Pesan dalam perangko ini yaitu supaya masyarakat mengenali kerja bersama yang telah dilakukan FAO bersama pemerintah. Foto-foto dalam perangko ini menunjukkan apa saja yang telah kita lakukan di Indonesia berkolaborasi dengan pemerintah," ungkap Mark Smulders, FAO Representative In Indonesia kepada detikFinance, di Desa Palu, Kecamatan Pemulutan, Kabupaten Ogan Ilir, Sabtu (17/10/2015).

Mark kemudian menjelaskan beberapa gambar dalam prangko tersebur.

"Anda yang pertama kali mendapat penjelasan lengkap isi pesan dalan perangko ini. Keenam prangko tersebut di antaranya menunjukkan foto program pengendalian hama terpadu, pertanian konservasi, membangun kehidupan dengan mendidik anak-anak, dan melindungi kesehatan masyarakat dengan pangan. Kemudian foto petani di kebun tanaman komersial seperti kopi, hutan sumber kehidupan, budidaya rumput laut bagi masyarakat korban tsunami, serta meningkatkatkan sektor perikanan," ucapnya.

Foto pertama, memperlihatkan pengendalian hama terpadu. FAO membantu petani menjaga panennya dari serangan hama.

"Apalagi dalam kaitannya dengan adanya el-nino, kekeringan, itu bisa mengurangi produksi pangan. Kita bekerja untuk membantu meningkatkan hasil kegiatan pertanian. Misalnya ke lahan jagung dengan meningkatkan kualitas tanah dan serangan hama," tambahnya.

Kedua, pertanian konservasi. Pertanian konservasi, menurut Mark termasuk bidang budidaya ternak. Fokus kegiatan yang tengah dilakukan adalah mencegah penyebaran virus unggas avian influenza.

"Ini kegiatan kita mengatasi avian influenza. Masih ada endemik virus ini di Indonesia. Kita bekerja mengembangkan laboratorium untuk menghasilkan vaksin influenza untuk melindungi dari penyebaran virus," jelasnya sambil menunjuk lembaran perangko.

Ketiga dan empat, Mark melanjutkan penjelasan ke prangko berjudul pengembangan komoditas kopi dan sektor kehutanan.

"Kopi menjadi komoditas penting di Indonesia dan potensinya sangat besar. Kami lakukan pemberdayaan petani pasca erupsi Gunung Sinabung untuk penanaman kembali. Kita bekerja untuk mengembalikan hutan mengajak kementerian untuk menerapkan manajemen hutan juga," terangnya.

Kelima dan keenam, FAO juga rupanya fokus ke bidang kelautan. FAO punya kegiatan pemberdayaan masyarakat korban Tsunami di Aceh untuk berkegiatan budidaya rumput laut.

"Ini project rumput laut bagi para nelayan dan petani pasca bencana Tsunami. Kita membantu nelayan dan petani pasca musibah supaya punya kegiatan dan penghasilan," imbuhnya. Lalu ada pengembangan sektor perikanan seperti pengolahan ikan.

Tema hari pangan sedunia secara internasional yaitu social protection atau perlindungan sosial. Menurutnya, petani selama ini belum mendapat perlindungan sosial seperti kesehatan, jaminan pasar, modal berusahatani hingga pendapatan.

Mark menjelaskan, program—program FAO banyak bekerja sama dengan Kementerian Pertanian.

"Ke depan kita perkuat sektor kehutanan, perkebunan, dan lainnya untuk berproduksi secara berkelanjutan dan menjaga lingkungan," tambahnya.

Kondisi iklim di Indonesia yang menjadi tantangan besar petani juga menjadi fokus FAO.

"Kita tahu tantangan cuaca di Indonesia makin berat akibat perubahan iklim. Selang waktu kejadian el-nino makin rapat dan tahun ini lebih panjang. Kemudian setelah el-nino panjang akan ada la-nina yang membawa hujan lebat hingga banjir," katanya.

 

Sumber : http://finance.detik.com

Lainnya :
*
Kebutuhan Pangan DIY Meningkat di Akhir Tahun
Berita Eksternal
Oleh : Sekretariat | 27-12-2017 |
*
BKPP DIY Hadiri Open House Gubernur DIY
Berita Eksternal
Oleh : Sekretariat | 04-07-2017 |
*
BKPP DIY DAN DINAS PERTANIAN DIY GELAR SYAWALAN BERSAMA
Berita Eksternal
Oleh : Sekretariat | 04-07-2017 |
*
BKPP dan Jogja Benih Ikut Memeriahkan Hari Krida Pertanian Ke-45
Berita Eksternal
Oleh : Sekretariat | 18-06-2017 |
*
BKPP DIY Ikut Berpartisipasi Dalam Invesda Expo 2017
Berita Eksternal
Oleh : Sekretariat | 22-05-2017 |

Beranda Berita Eksternal