Logo DIY jogja istimewa
BADAN KETAHANAN PANGAN DAN PENYULUHAN
DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA
FGD Analisis Pola Panen Bulanan Berdasarkan ARAM II Tahun 2016
Bidang Ketersediaan Pangan
Oleh : Sekretariat | 29-11-2016 |

FGD Analisis Pola Panen Bulanan Berdasarkan Angka Ramalan (ARAM) II Tahun 2016 yang diselenggarakan oleh bidang ketersediaan pangan BKPP DIY pada tanggal 28 November 2016 ini merupakan bagian dari sistem deteksi dini (early warning system) terhadap stok pangan sehingga diharapkan nantinya akan menjaga stabilitas keamanan pangan nasional yang merupakan bagian dari menjaga stabilitas nasional.

Acara yang bertempat di ruang rapat Flamboyan Gedung C Lantai 2 Dinas Pertanian DIY ini menghadirkan 40 peserta dari berbagai instansi yang terkait dengan penyediaan data maupun pemakaian data antara lain seperti para lurah pasar di kota Yogyakarta, Dinas Pertanian, Dinas Pertanian, Dinas Perikanan dan Kelautan, BPS, Bank Indonesia Perwakilan Yogyakarta, Badan Ketahanan Pangan serta instansi lain baik di tingkat kabupaten maupun propinsi.

Kegiatan FGD ini dibuka secara langsung oleh kepala BKPP DIY, Ir Arofa Noor Indriani, M.Si. yang sekaligus menyampaikan pemaparan terkait Analisis Ketersediaan Pangan Berdasarkan ARAM II Tahun 2016. Dalam penyampaiannya, disebutkan bahwa pada tahun ini DIY mengalami deficit pada beberapa komoditas yaitu kedelai, kacang hijau, dan ubi jalar masing-masing sebesar 14.906 ton, 875 ton, dan 3.586 ton. Kedelai mengalami deficit selama 9 bulan sementara ubi jalar hamper sepanjang tahun. Untuk kacang hijau hanya mengalami deficit pada bulan Desember.

Berdasarkan kebutuhan rumah tangga dan non rumah tangga, jika dibandingkan antara produksi dan konsumsi komoditi beras mengalami surplus sebesar 49.414 ton. Jika hanya didasarkan pada kebutuhan rumah tangga, beras mengalami surplus sebesar 180.115 ton. Ketersediaan beras paling tinggi pada bulan Maret karena baik luas panen maupun produksi padi mengalami puncaknya pada bulan Maret. Komoditas palawija juga banyak yang mengalami surplus seperti jagung yang mengalami surplus hamper sepanjang tahun sebesar 159.057 ton. Sebagaimana padi, luas panen maupun produksi jagung tertinggi terjadi pada bulan Maret.

Penyampaian berikutnya terkait Angka Ramalan II tahun 2016 untuk komoditas tanaman pangan oleh kepala bidang Tanaman Pangan Dinas Pertanian DIY, Ir. Yektining Rahajeng, MP.

Dalam mewujudkan peningkatan produksi, kualitas dan nilai tambah produk pertanian khususnya untuk tanaman pangan sebagai salah satu sasarannya tidak luput dari adanya permasalahan di antaranya konversi lahan di DIY yang tergolong tinggi yaitu 200-250 ha/tahun. Permasalahan tersebut sudah disikapi dengan adanya perda no 10 tahun 2011 tentang perlindungan lahan pangan berkelanjutan. Permasalahan lain seperti saluran irigasi yang rusak sejak tahun 2015 sudah digalakkan untuk perbaikannya. Permasalahan lain seperti mahalnya input pupuk dan benih, SDM Petani yang jumlahnya kian menurun, pembiayaan yang belum berpihak pada petani, kualitas panen yang rendah, serta dampak perubahan iklim perlahan sudah dilakukan penyiasatan.

Jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya produksi padi di DIY pada tahun ini baik padi sawah maupun padi lading cenderung mengalami penurunan. Hal tersebut tidak lepas dari adanya kondisi curah hujan yang tergolong tinggi di tahun 2016 ini sehingga mengganggu penyerbukan dan tentunya menurunkan produktivitas meskipun luas tanam khusunya untuk lahan sawah mengalami peningkatan. Produksi padi lading DIY sebesar 170.325 ton dengan luas panen 41.926 ha dan produksi terbesar lebih dari 50 % berasal dari Gunungkidul. Untuk padi sawah produktivitasnya turun menjadi 62,65 kuintal/ha dari yang semula di tahun 2015 66,07 kuintal/ha. Produksinya juga mengalami penurunan sebesar 18.631 ton menjadi 728.179 ton. Padi sawah terbesar berasal dari kabupaten Sleman.

Beberapa komoditas juga mengalami penurunan produksi antara lain kedelai yang diakibatkan menurunnya minat petani akibat harga yang sering jatuh di pasaran. Ubi kayu juga demikian, tidak sedikit petani di Gunungkidul yang tidak memanen ubi kayu mereka akibat harga yang rendah hingga Rp 500,-/kg. Komoditas lain seperti ubi jalar juga masih belum mendapat perhatian lebih dalam pengembangannya dan hanya sebagai selingan di sawah/lading. Sorgum juga demikian.

Tidak hanya disampaikan terkait tanaman pangan, dalam FGD kali ini dipaparkan juga penyampaian terkait produksi dan ketersedian komoditas perikanan tahun 2016 oleh Dr Suwarman Partosuwiryo dari Dinas Kelautan dan Perikanan DIY. Pada kesempatan tersebut beliau menyampaikan bahwa Target ketersediaan ikan di DIY tahun 2016 sebesar 29,89 kg/kapita/tahun. Dengan jumlah penduduk sekitar 3.560.000 jiwa, maka target ketersediaan ikan sebanyak 106.230.000  kg.

Target produksi perikanan tangkap tahun ini sebesar 7.600 ton dengan komposisi sebesar 5.850 berasal dari perikanan laut dan selebihnya berasal dari perairan umum. Namun demikian Realisasinya hingga triwulan III ini baru sekitar 50% atau sebesar 3.809 ton. Gunungkidul merupakan penyumbang produksi ikan laut terbesar sementara Kulonprogo terbesar pada produksi perikanan tangkap dari perairan umum yaitu mencapai 1.019 ton. Perikanan tangkap dari perairan laut didominasi oleh ikan Cakalang, Tuna, dan Layur. Penyebab menurunnya tangkapan laut selain kondisi kemarau basah yang mendorong ikan untuk bergerak ke laut dalam sehingga sulit dijangkau oleh kapal nelayan juga banyaknya nelayan yang mulai beralih profesi.

Kondisi sebaliknya terjadi pada perikanan budidaya yang pada tahun ini produksinya meningkat bahkan melebihi target. Target produksi perikanan budidaya tahun 2016 sebesar 54.115,94 ton dan pada triwulan III sudah terealisasi sebesar 54.634,44 ton. Komposisi jenis ikan budidaya didominasi ikan lele kemudian Nila, Gurami, dan udang vaname. Sleman karena airnya yang melimpah menjadikan produksi ikan budidaya adalah paling besar. Adapun factor-faktor yang mempengaruhi peningkatan perikanan budidaya yaitu adanya bantuan sarana produksi kepada pembudidaya ikan, Intensifikasi lahan usaha budidaya ikan, serta lahan budidaya ikan bertambah luas. Kebutuhan ikan juga bertambah sehingga pemasarannya  lancar.

Penyampaian terakhir yaitu terkait analisi pola panen di kabupaten Bantul berdasarkan ARAM II oleh Ir Suryanti, MMA dari BKP3 Bantul. Pola produksi dan ketersediaan pangan di Kabupaten Bantul merupakan representasi kecil dari kondisi DIY sehingga pada dalam penyampaiannya saling mengikuti, termasuk jenis komoditas yang mengalami surplus maupun deficit, dan hanya berbeda dari segi volume saja.

Lainnya :
*
Kunjungan Ke Lokasi Lumbung Pangan Masyarakat Sumatera Barat
Bidang Ketersediaan Pangan
Oleh : Admin | 16-08-2018 |
*
BKPP DIY Selenggarakan Lomba Desa Mandiri Pangan Tahun 2018
Bidang Ketersediaan Pangan
Oleh : Sekretariat | 26-07-2018 |
*
Sosialisasi Desa Mandiri Pangan 2018
Bidang Ketersediaan Pangan
Oleh : Sekretariat | 17-07-2018 |
*
Pembahasan Lomba Desa Mandiri Pangan 2018
Bidang Ketersediaan Pangan
Oleh : Sekretariat | 25-05-2018 |
*
BKPP DIY Kembangkan Kawasan Rumah Pangan Lestari
Bidang Ketersediaan Pangan
Oleh : Sekretariat | 26-02-2018 |

Beranda Bidang Ketersediaan Pangan