Logo DIY jogja istimewa
BADAN KETAHANAN PANGAN DAN PENYULUHAN
DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA
RAPAT KERJA NASIONAL (RAKERNAS) TAHUN 2017
Kementan RI
Oleh : Sekretariat | 12-01-2017 |

(Foto : http://www.kemendag.go.id)

Rapat yang diadakan di Hotel Bidakara Jl.  Gatot Subroto Pancoran Jakarta Selatan tanggal 4 Januari 2017 pukul 07.30 WIB, dihadiri oleh beberapa pihak kementerian terkait. Dalam kesempatan ini, Kepala BKPP DIY Ir. Arofa Noor Indriani, M. Si bersama Sekretaris Badan  dan Bidang Konsumsi dan Kewaspadaan Pangan ikut hadir dalam rapat tersebut.

Rapat Kerja Nasional (RAKERNAS) Pembangunan Pertanian Tahun 2017 dengan tema “Bangun Lahan Tidur untuk Meningkatkan Ekspor dengan Pembangunan Infrastruktur Pertanian”. Tujuan pertemuan ini dalam rangka membahas upaya percepatan pelaksanaan kegiatan khususnya terkait pencapaian target produksi pertanian menuju swasembada pangan, membahas pemantapan operasional konsep integrasi pelaksanaan program, kegiatan dan anggaran untuk percepatan pencapaian swasembada pangan dan peningkatan produksi komoditas strategis, dan pelaksanaan.

Kepala Badan Ketahanan Pangan Dr. Ir. Gardjita Budi, M.Agr.St memaparkan Indeks Ketahanan Pangan (IKP) Indonesia 50,6 tahun 2016 dengan urutan ke-71 dari 109 Negara dan tahun 2015 IKP Indonesia 46,7 pada urutan ke-74 dari 109 negara. Indeks ini disusun dari tiga dimensi yaitu ketersediaan pangan, keterjangkauan/akses pangan, dan pemanfaatan pangan,

Program Kinerja BKP Tahun 2016 yakni Pengembangan Usaha Pangan Masyarakat (PUPM) mencapai 493 GAPT/Toko Tani Indonesia (TTI) 1.316 unit, Kawasan Rumah Pangan Lestari (KRPL) 4.894 Kelompok Wanita/Desa dalam 258 kabupaten/kota di 34 provinsi terlaksana dengan baik dan dikembangkan lagi di tahun 2017.

Menteri Pertanian Amran Sulaiman‎ memasang target swasembada untuk masing-masing produk pangan. Puncaknya, pada 2045 mendatang Indonesia bisa menjadi lumbung pangan dunia dengan swasembada.

Pada 2017 ditargetkan swasembada jagung, 2019 untuk gula konsumsi dan kedelai, di 2025 untuk gula industri, di 2026 untuk daging sapi, dan pada 2033 untuk bawang putih. Apabila ini mampu diwujudkan, maka di 2045 Indonesia menjadi lumbung pangan dunia.

Panglima TNI Jenderal TNI Gatot Nurmantyo juga menjalaskan bahwa Bangsa Indonesia diuntungkan sebagai negara agraris yang berada di garis ekuator karena memiliki potensi melimpah dan didukung dengan kondisi geografis yang baik di bidang pertanian, perkebunan, perikanan, peternakan dan lainnya.

Panglima TNI juga memaparkan bahwa jumlah penduduk dunia saat mengalami krisi energi pada 2043 mencapai sekitar 12,3 miliar jiwa, yang berarti hampir empat kali lipat populasi ideal penduduk bumi, dimana 9,8 miliar berada diluar ekuator dan hanya 2,5 miliar penduduk yang tinggal di garis ekuator.

Ke depan konflik di dunia akan mengalami perubahan, hal tersebut dipicu oleh energi fosil akan habis pada 2043 dan hanya bisa digantikan dengan energi alternatatif (energi hayati) yang bisa hidup sepanjang tahun dan hal itu hanya ada di wilayah ekuator. Hal tersebut dapat diperkirakan bahwa penduduk dunia akan mendekati wilayah ekuator.

 

Lainnya :
Tidak ditemukan hasil.

Beranda Kementan RI